Langsung ke konten utama

Memaknai Pilihan dalam Proses Ber-HMI : Refleksi Intelektual dan Tanggung Jawab Sosial Kader HMI



Memilih untuk berproses di Himpunan Mahasiswa Islam sering kali terlihat sederhana dari luar, padahal di dalamnya ada keputusan yang tidak ringan. Banyak yang datang karena ajakan teman, karena penasaran, atau sekadar ingin mencoba. Tapi di titik tertentu, semua itu akan diuji. Apakah tetap bertahan, atau perlahan menjauh karena merasa tidak menemukan makna.

Di sisi lain, ada hal yang sering tidak disadari sejak awal yaitu kepekaan sosial. Semakin lama berproses, semakin terasa bahwa apa yang dipelajari tidak cukup untuk diri sendiri. Ada realitas di luar yang tidak bisa diabaikan. Ada persoalan masyarakat yang menuntut kepedulian. Ini sejalan dengan nilai dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2 yang mengingatkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam keburukan. Dari sini, pelan-pelan tumbuh kesadaran bahwa ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan hanya kepuasan pribadi.

Ber-HMI pelan pelan mengubah cara seseorang melihat sesuatu. Diskusi yang awalnya terasa berat, lama lama jadi kebutuhan. Perbedaan pendapat yang dulu dihindari, justru jadi ruang belajar. Di situ mulai terasa bahwa intelektual bukan soal siapa yang paling sering bicara, tapi siapa yang mau memahami. Bukan soal terlihat pintar, tapi berani berpikir dengan dasar. Proses ini tidak cepat, kadang melelahkan, tapi justru di situlah letak pembentukannya.

Proses ini juga membentuk cara berkomunikasi. Tidak semua orang langsung berani bicara. Banyak yang awalnya memilih diam, takut salah, atau merasa tidak cukup mampu. Tapi forum demi forum mengajarkan hal yang berbeda bahwa menyampaikan pendapat itu bagian dari tanggung jawab. Bukan untuk menang sendiri, tapi untuk berbagi cara pandang. Sampai pada titik di mana seseorang mulai memahami makna qaulan balighan seperti dalam QS An-Nisa ayat 63:

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah dari mereka, berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwa mereka.”

Bahwa yang penting bukan sekadar berbicara, tapi bagaimana kata-kata itu bisa sampai dan bermakna.

Di tengah semua proses itu, ada satu hal yang seharusnya tidak dilupakan dan menjadi alasan awal. Dalam Al-Qur’an, QS Al-Isra ayat 36 mengingatkan:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini sederhana, tapi dalam. Jangan berjalan tanpa tahu arah. Jangan ikut tanpa paham tujuan. Karena tanpa itu, proses akan terasa berat, bahkan bisa kehilangan makna di tengah jalan.

Pada akhirnya, ber-HMI bukan soal seberapa lama bertahan atau seberapa sering terlihat aktif. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana seseorang memaknai pilihannya. Apakah ia benar-benar belajar, benar benar peduli, dan benar-benar berkembang. Banyak yang datang, tapi tidak semua bertahan. Dan biasanya, yang tetap ada adalah mereka yang sejak awal punya alasan meski sederhana, tapi cukup untuk membuatnya tetap berjalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Oleh : Ajeng Febrian Surbakti      Sebagai mahasiswa itu sendiri, kampus adalah rumah kedua kita, tempat kita menimba ilmu dan membentuk mimpi-mimpi yang lama kita bangun. Namun, bayang-bayang kekerasan seksual yang mencuat di UINSU baru-baru ini merobek rasa aman yang seharusnya kita rasakan. Sebagai kader (Himpunan Mahasiswa Islam) HMI, sepatutnya kita tidak bisa tinggal diam. Dalam tulisan ini saya, Ajeng Febrian Surbakti ingin mengulas sedikit lewat teropong kader HMI. Perlu diketahui benang kusut permasalahan ini merupakan tanggung jawab moral kita bersama, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.      Dari sudut pandang mahasiswa, salah satu akar masalah yang paling terasa adalah kurangnya ruang aman dan mekanisme pelaporan yang efektif. D...

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS Oleh: Rizky Nanda Pratama Sebelum kita melangkah lebih jauh dalam pembahasan ini, ada baiknya kita menilik kembali sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Apa sebenarnya HMI? Mengapa organisasi ini didirikan, dan apa alasan keberadaannya masih dipertahankan hingga kini? Memahami sejarah dan tujuan HMI sangat penting agar setiap kader dapat menyerap pesan yang terkandung di dalamnya. Tanpa pemahaman yang utuh, ada risiko bahwa kader tidak akan terlibat aktif dalam perjuangan untuk mewujudkan misi HMI. Dampaknya bisa beragam: misi yang berbunyi “terbinanya insan akademik, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala” dapat dianggap sebagai sekadar susunan kata tanpa makna, bahkan dapat dianggap sepele sehingga tidak layak untuk diperjuangkan. Oleh karena itu, memahami HMI secara menyeluruh, termasuk motivasi di balik pendirian...

Dinamika Stigma Negatif HmI

“Dinamika Stigma Negatif HmI” Oleh : Abdul Rasyid Nasution             HMI adalah organisasi yang tertua yang ada di Indonesia, sebab 2 tahun pasca kemerdekeaan HMI dideklarasikan oleh seorang mahasiswa STII (seakarang UII) yaitu Bung Lafran Pane di Jogjakarta pada tanggal 05 Februari 1947. HMI adalah organisasi independen yang tidak terikat dengan ormas/instasi manapun, yang mana ini membuktikan bahwa HMI berisi orang-orang yang memiliki kedewasaan karakter dan kedewasaan berfikir dengan asas islam, kemudian dengan NDP (Nilai-nilai Dasar Perjuangan).             Banyak yang menuduhkan bahwa HMI adalah NU, HMI adalah Muhammadiyah dll. Padahal HMI adalah oraganisasi yang mempunyai nilai esensial tentang pandangan islam, seperti yang ditulis salah seorang tokoh yaitu Nurcholis Majid (Cak Nur) dan tokoh-tokoh lainnya.          ...