Langsung ke konten utama

Memaknai Pilihan dalam Proses Ber-HMI : Refleksi Intelektual dan Tanggung Jawab Sosial Kader HMI


Oleh: Dimas Septiadi 

Memilih untuk berproses di Himpunan Mahasiswa Islam sering kali terlihat sederhana dari luar, padahal di dalamnya ada keputusan yang tidak ringan. Banyak yang datang karena ajakan teman, karena penasaran, atau sekadar ingin mencoba. Tapi di titik tertentu, semua itu akan diuji. Apakah tetap bertahan, atau perlahan menjauh karena merasa tidak menemukan makna.

Di sisi lain, ada hal yang sering tidak disadari sejak awal yaitu kepekaan sosial. Semakin lama berproses, semakin terasa bahwa apa yang dipelajari tidak cukup untuk diri sendiri. Ada realitas di luar yang tidak bisa diabaikan. Ada persoalan masyarakat yang menuntut kepedulian. Ini sejalan dengan nilai dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2 yang mengingatkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam keburukan. Dari sini, pelan-pelan tumbuh kesadaran bahwa ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan hanya kepuasan pribadi.

Ber-HMI pelan pelan mengubah cara seseorang melihat sesuatu. Diskusi yang awalnya terasa berat, lama lama jadi kebutuhan. Perbedaan pendapat yang dulu dihindari, justru jadi ruang belajar. Di situ mulai terasa bahwa intelektual bukan soal siapa yang paling sering bicara, tapi siapa yang mau memahami. Bukan soal terlihat pintar, tapi berani berpikir dengan dasar. Proses ini tidak cepat, kadang melelahkan, tapi justru di situlah letak pembentukannya.

Proses ini juga membentuk cara berkomunikasi. Tidak semua orang langsung berani bicara. Banyak yang awalnya memilih diam, takut salah, atau merasa tidak cukup mampu. Tapi forum demi forum mengajarkan hal yang berbeda bahwa menyampaikan pendapat itu bagian dari tanggung jawab. Bukan untuk menang sendiri, tapi untuk berbagi cara pandang. Sampai pada titik di mana seseorang mulai memahami makna qaulan balighan seperti dalam QS An-Nisa ayat 63:

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah dari mereka, berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwa mereka.”

Bahwa yang penting bukan sekadar berbicara, tapi bagaimana kata-kata itu bisa sampai dan bermakna.

Di tengah semua proses itu, ada satu hal yang seharusnya tidak dilupakan dan menjadi alasan awal. Dalam Al-Qur’an, QS Al-Isra ayat 36 mengingatkan:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini sederhana, tapi dalam. Jangan berjalan tanpa tahu arah. Jangan ikut tanpa paham tujuan. Karena tanpa itu, proses akan terasa berat, bahkan bisa kehilangan makna di tengah jalan.

Pada akhirnya, ber-HMI bukan soal seberapa lama bertahan atau seberapa sering terlihat aktif. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana seseorang memaknai pilihannya. Apakah ia benar-benar belajar, benar benar peduli, dan benar-benar berkembang. Banyak yang datang, tapi tidak semua bertahan. Dan biasanya, yang tetap ada adalah mereka yang sejak awal punya alasan meski sederhana, tapi cukup untuk membuatnya tetap berjalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik

  Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik Oleh: Selamat Ariady Tampubolon  Sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa persoalan ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh hari ini tidak bisa dilepaskan dari satu hal yang sering dianggap sepele yaitu disiplin administrasi. Padahal, justru dari administrasi yang tertiblah lahir perlindungan hak, kejelasan status kerja, hingga kepastian kesejahteraan bagi para pekerja. Di tengah berbagai dinamika,mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpastian kerja akibat kondisi alam, hingga geliat pembangunan infrastruktur, buruh kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Namun ironisnya, banyak persoalan yang mereka hadapi berakar dari lemahnya tata kelola administrasi: kontrak kerja yang tidak jelas, data pekerja yang tidak terdokumentasi dengan baik, hingga hak-hak normatif seperti jaminan sosial dan upah lembur yang tidak tercatat secara transparan. Ini bukan sekadar kelalaian tek...

Tradisi Intelektual Yang Lemah Adalah Ancaman Bagi Masa Depan Kaderisasi

 Oleh: Faisal Alhafiz Damanik Sebagai Kabid P3A Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa tantangan terbesar organisasi hari ini bukan hanya soal regenerasi, tetapi bagaimana melahirkan kader yang memiliki kualitas intelektual, daya kritis, dan integritas perjuangan yang kuat. Sebab organisasi akan kehilangan arah ketika tradisi berpikir, budaya riset, dan pembinaan kader tidak lagi menjadi prioritas utama. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, mahasiswa sering kali terjebak pada aktivitas seremonial tanpa memperkuat fondasi keilmuan dan kapasitas diri. Diskusi mulai berkurang, budaya membaca melemah, sementara semangat penelitian dan pengembangan gagasan belum tumbuh secara maksimal. Padahal, kekuatan HMI sejak dahulu lahir dari kader-kader yang berpikir kritis, mampu membaca realitas sosial, serta berani menawarkan solusi bagi umat dan bangsa. Persoalan ini menjadi refleksi penting bagi kita semua bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada...