Langsung ke konten utama

Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik

 

Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik

Oleh: Selamat Ariady Tampubolon 


Sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa persoalan ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh hari ini tidak bisa dilepaskan dari satu hal yang sering dianggap sepele yaitu disiplin administrasi. Padahal, justru dari administrasi yang tertiblah lahir perlindungan hak, kejelasan status kerja, hingga kepastian kesejahteraan bagi para pekerja.

Di tengah berbagai dinamika,mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpastian kerja akibat kondisi alam, hingga geliat pembangunan infrastruktur, buruh kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Namun ironisnya, banyak persoalan yang mereka hadapi berakar dari lemahnya tata kelola administrasi: kontrak kerja yang tidak jelas, data pekerja yang tidak terdokumentasi dengan baik, hingga hak-hak normatif seperti jaminan sosial dan upah lembur yang tidak tercatat secara transparan. Ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan bentuk nyata dari rendahnya komitmen terhadap keadilan sosial.

Momentum May Day 2026 seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai peringatan seremonial, tetapi sebagai refleksi bersama bahwa perjuangan buruh juga harus diperkuat melalui pembenahan sistem administrasi yang akuntabel. Tanpa administrasi yang disiplin, mustahil kita berbicara tentang perlindungan buruh yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, saya mengajak seluruh lembaga, instansi pemerintah, maupun sektor swasta untuk menjadikan disiplin administrasi sebagai bagian integral dari komitmen terhadap kesejahteraan pekerja. Setiap dokumen kerja, setiap laporan, setiap sistem pencatatan bukanlah sekadar formalitas, melainkan instrumen perlindungan hak-hak buruh. Ketika administrasi dikelola dengan baik, maka ruang untuk penyimpangan akan semakin sempit, dan keadilan bagi pekerja akan semakin terbuka.

HMI sebagai organisasi kader dan perjuangan memiliki tanggung jawab moral untuk terus mendorong kesadaran ini. Kita harus berdiri di garis depan, tidak hanya dalam menyuarakan aspirasi buruh, tetapi juga dalam mengawal perbaikan sistem yang menopang kesejahteraan mereka. Karena pada akhirnya, kesejahteraan buruh bukan hanya soal angka upah, tetapi tentang hadirnya sistem yang tertib, transparan, dan berpihak pada keadilan.

Maka saya mengajak kita menjadikan disiplin administrasi sebagai gerakan bersama sebagai fondasi untuk menciptakan dunia kerja yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan bermartabat.

Selamat Hari Buruh Internasional, Kerja KerasMu, Kebanggaan Bangsa.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Pilihan dalam Proses Ber-HMI : Refleksi Intelektual dan Tanggung Jawab Sosial Kader HMI

Oleh: Dimas Septiadi  Memilih untuk berproses di Himpunan Mahasiswa Islam sering kali terlihat sederhana dari luar, padahal di dalamnya ada keputusan yang tidak ringan. Banyak yang datang karena ajakan teman, karena penasaran, atau sekadar ingin mencoba. Tapi di titik tertentu, semua itu akan diuji. Apakah tetap bertahan, atau perlahan menjauh karena merasa tidak menemukan makna. Di sisi lain, ada hal yang sering tidak disadari sejak awal yaitu kepekaan sosial. Semakin lama berproses, semakin terasa bahwa apa yang dipelajari tidak cukup untuk diri sendiri. Ada realitas di luar yang tidak bisa diabaikan. Ada persoalan masyarakat yang menuntut kepedulian. Ini sejalan dengan nilai dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2 yang mengingatkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam keburukan. Dari sini, pelan-pelan tumbuh kesadaran bahwa ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan hanya kepuasan pribadi. Ber-HMI pelan pelan mengubah cara seseo...

Tradisi Intelektual Yang Lemah Adalah Ancaman Bagi Masa Depan Kaderisasi

 Oleh: Faisal Alhafiz Damanik Sebagai Kabid P3A Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa tantangan terbesar organisasi hari ini bukan hanya soal regenerasi, tetapi bagaimana melahirkan kader yang memiliki kualitas intelektual, daya kritis, dan integritas perjuangan yang kuat. Sebab organisasi akan kehilangan arah ketika tradisi berpikir, budaya riset, dan pembinaan kader tidak lagi menjadi prioritas utama. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, mahasiswa sering kali terjebak pada aktivitas seremonial tanpa memperkuat fondasi keilmuan dan kapasitas diri. Diskusi mulai berkurang, budaya membaca melemah, sementara semangat penelitian dan pengembangan gagasan belum tumbuh secara maksimal. Padahal, kekuatan HMI sejak dahulu lahir dari kader-kader yang berpikir kritis, mampu membaca realitas sosial, serta berani menawarkan solusi bagi umat dan bangsa. Persoalan ini menjadi refleksi penting bagi kita semua bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada...