Oleh: Faisal Alhafiz Damanik Sebagai Kabid P3A Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa tantangan terbesar organisasi hari ini bukan hanya soal regenerasi, tetapi bagaimana melahirkan kader yang memiliki kualitas intelektual, daya kritis, dan integritas perjuangan yang kuat. Sebab organisasi akan kehilangan arah ketika tradisi berpikir, budaya riset, dan pembinaan kader tidak lagi menjadi prioritas utama. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, mahasiswa sering kali terjebak pada aktivitas seremonial tanpa memperkuat fondasi keilmuan dan kapasitas diri. Diskusi mulai berkurang, budaya membaca melemah, sementara semangat penelitian dan pengembangan gagasan belum tumbuh secara maksimal. Padahal, kekuatan HMI sejak dahulu lahir dari kader-kader yang berpikir kritis, mampu membaca realitas sosial, serta berani menawarkan solusi bagi umat dan bangsa. Persoalan ini menjadi refleksi penting bagi kita semua bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada...
Menjaga Amanah, Menata Harapan Oleh: Mulyani Memegang amanah sebagai Bendahara Umum di Himpunan Mahasiswa Islam sering kali dipandang sebelah mata. Banyak yang mengira tugasnya hanya mencatat angka atau menagih iuran. Padahal, di balik deretan angka itu ada keputusan berat dan ujian integritas yang nyata. Awalnya, posisi ini tampak sekadar teknis administrasi. Namun semakin jauh berjalan, kita menyadari bahwa ini adalah ujian hati dan konsistensi dalam menjaga kepercayaan organisasi. Dalam konteks keuangan organisasi, ayat ini mengajarkan bahwa setiap rupiah yang dihimpun dari kader harus dikelola untuk mendukung perkaderan dan perjuangan, bukan disalahgunakan atau dihamburkan. Di sinilah tumbuh kesadaran bahwa mengelola keuangan adalah bagian dari dakwah dan ikhtiar menjaga keberlangsungan organisasi. Ber-HMI di posisi bendahara perlahan mengubah cara pandang kita terhadap materi. Uang bukan lagi simbol kekuasaan, melainkan alat perjuangan yang harus dipertanggungjawabkan. Allah ...