Langsung ke konten utama

 


Sikap Dasar Kaum Intelektual Islam
 Oleh : Khairul Fadli Manurung


 

Kita sebagai kaum intelektual harus senantiasa berhati hati dalam menjaga sikap dasar kita.Terutama bagi kita kaum intelektual yang pernah dibesarkan dalam lingkungan sosio-kultural Islam. Ketajaman kritik kita terhadap umat berhubung dengan generasi attitude nya, jangan sampai menjerumuskan kita pada sikap yang salah dalam menghadapi suatu masalah, sebagaimana kita menjauhkan diri dari sikap membenarkan mereka.

Kita harus benar benar bisa menjauhkan diri dari nilai ganda ( double standard) , nilai ganda yang memihak umat Islam ataupun nilai ganda yang memihak bukan Islam. Ada baiknya kita ingat bahwa mengucapkan assalamualaikum tidak terus berarti Islam, sok ikhlas, sok khusyu' tidak terus berarti Islam, mengobral ayat ayat Al Qur'an tidak terus berarti Islam, pidato pakai shalawat tidak terus berarti Islam. Demikian pula, menyerang gadis pakai kerudung tidak terus berarti moderen, meremehkan pentingnya sholat tidak terus berarti moderen , membela atheisme tidak terus berarti moderen, menolak formalitas tidak terus berarti moderen, mengkritik umat Islam tidak terus berarti moderen, membela orang orang berdansa tidak terus lalu berarti moderen.

            "Hal hal tersebut diatas perlu dijaga agar kita janga terjerumus pada sikap keislam-islaman atau kemoderen-moderenan. Yang demikian itu sama sekali tidak berarti saya tidak membenarkan orang yang selalu mengucapkan salam, menulis Arab, mengobral ayat dan lain lainnya".Demikian juga tidak berarti bahwa saya tidak membenarkan orang yang menyerang gadis berkerudung, menyerang umat Islam, menolak formalitas dan lain lain.

Ini penting dalam pembinaan berpikir bebas , membebaskan diri kita dari tirani dalam diri kita sendiri. Kita harus berani membebaskan diri dari dua tirani yang berdempet, yakni :

   1. tirani kesombongan

       a. sok islam tulen

       b. sok ikhlas

       c. sok moderen

       d. sok intelektual

       e. sok moralis

       f. sok suci

       g. dan lain sebagainya

      

   2. Tirani ketakutan

       a. Konservatif

       b. Atheis

       c. Kolot( kuno)

       d. Kafir

       e. Mu' tazilah

       f. Desorientasi( tidak bisa  mengendalikan keadaan sekitarnya)

       g. Lemah ideologi

       h. Imannya diragukan

       i. Sekularis

       j. Kebarat- baratan

       k. Dan lain lainnya

   

Diakhir cerita saya mengambil diari yang disampaikan oleh Ahmad wahib.

" Bagi kita theist dan atheis bisa berkumpul

Muslim dan kristiani bisa bercanda

Artis dan atlit bisa bergurau

Kafirin dan Muttaqien bisa bermesraan

Tapi

Plural dan anti pluralist tak bisa bertemu

Dia menyangkut milik manusia yang paling tinggi awal dan akhir pribadi

Dia menyangkut keterbukaan dan ketertutupan

Dia menyangkut adanya pribadi atau lenyapnya pribadi

Bagi kita

Tak ada pribadi , tak ada manusia

Kemerdekaan adalah hakekat existensi manusia

Ini masalah dasar bagi kita

Apalagi bagi organisasi kader

Yang sasarannya adalah manusia dengan kepribadiannya".

 

    Refrensi buku pergolakan pemikiran Islam hal 32-33.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Pilihan dalam Proses Ber-HMI : Refleksi Intelektual dan Tanggung Jawab Sosial Kader HMI

Oleh: Dimas Septiadi  Memilih untuk berproses di Himpunan Mahasiswa Islam sering kali terlihat sederhana dari luar, padahal di dalamnya ada keputusan yang tidak ringan. Banyak yang datang karena ajakan teman, karena penasaran, atau sekadar ingin mencoba. Tapi di titik tertentu, semua itu akan diuji. Apakah tetap bertahan, atau perlahan menjauh karena merasa tidak menemukan makna. Di sisi lain, ada hal yang sering tidak disadari sejak awal yaitu kepekaan sosial. Semakin lama berproses, semakin terasa bahwa apa yang dipelajari tidak cukup untuk diri sendiri. Ada realitas di luar yang tidak bisa diabaikan. Ada persoalan masyarakat yang menuntut kepedulian. Ini sejalan dengan nilai dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2 yang mengingatkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam keburukan. Dari sini, pelan-pelan tumbuh kesadaran bahwa ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan hanya kepuasan pribadi. Ber-HMI pelan pelan mengubah cara seseo...

Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik

  Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik Oleh: Selamat Ariady Tampubolon  Sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa persoalan ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh hari ini tidak bisa dilepaskan dari satu hal yang sering dianggap sepele yaitu disiplin administrasi. Padahal, justru dari administrasi yang tertiblah lahir perlindungan hak, kejelasan status kerja, hingga kepastian kesejahteraan bagi para pekerja. Di tengah berbagai dinamika,mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpastian kerja akibat kondisi alam, hingga geliat pembangunan infrastruktur, buruh kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Namun ironisnya, banyak persoalan yang mereka hadapi berakar dari lemahnya tata kelola administrasi: kontrak kerja yang tidak jelas, data pekerja yang tidak terdokumentasi dengan baik, hingga hak-hak normatif seperti jaminan sosial dan upah lembur yang tidak tercatat secara transparan. Ini bukan sekadar kelalaian tek...

Tradisi Intelektual Yang Lemah Adalah Ancaman Bagi Masa Depan Kaderisasi

 Oleh: Faisal Alhafiz Damanik Sebagai Kabid P3A Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa tantangan terbesar organisasi hari ini bukan hanya soal regenerasi, tetapi bagaimana melahirkan kader yang memiliki kualitas intelektual, daya kritis, dan integritas perjuangan yang kuat. Sebab organisasi akan kehilangan arah ketika tradisi berpikir, budaya riset, dan pembinaan kader tidak lagi menjadi prioritas utama. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, mahasiswa sering kali terjebak pada aktivitas seremonial tanpa memperkuat fondasi keilmuan dan kapasitas diri. Diskusi mulai berkurang, budaya membaca melemah, sementara semangat penelitian dan pengembangan gagasan belum tumbuh secara maksimal. Padahal, kekuatan HMI sejak dahulu lahir dari kader-kader yang berpikir kritis, mampu membaca realitas sosial, serta berani menawarkan solusi bagi umat dan bangsa. Persoalan ini menjadi refleksi penting bagi kita semua bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada...