Langsung ke konten utama

Renungan Malam

 

Renungan Malam

Oleh : Dian Permata Sari


Suasana sepi malam hari membuat beragam pemikiran yang telah lama terpendam barangkali mulai bermunculan. Entah itu dari pemikiran tentang masa lalu atau masa depan yang memenuhi hati dan pikiran. Dikala sepi, ada waktu dimana seseorang merasakan kekosongan jiwa dengan pikiran yg entah berkelana kesana kemari.

Ingin rasanya menyudahi, menghibur diri dengan scroll sosial media malah rasanya semakin menambah beban pikiran. Akhirnya duduk sejenak, diam, sesekali merebahkan diri, buka hp, duduk lagi dan begitu seterusnya. Bahkan tak ada kata nyaman pada saat itu.

Tak terelakkan lagi, bahwa malam hari adalah keheningan yang paling menyesakkan untuk setiap masalah yang muncul di permukaan dan saling berebut agar dipikirkann. Tentang hari itu, hari lalu, atau hari esok, semuanya tiba - tiba saja muncul.

Menginjak usia yang kian hari seemakin dewasa, ada begitu banyak hal yang berseliweran. Mimpi-mimpi yang ingin direalisasikan, tekanan orang tua agar cepat lulus kuliah, bahkan harus cepat sukses, omongan orang yang tak bisa dikendalikan. Semuanya bercampur menjadi satu. Ingin rasanya otak ikut meledak, akhirnya mencoba berdamai dengan diri, jalan bersama teman untuk menghilangkan sejenak beban pikiran. Tapi kenyataannya kesenangan sesaat tadi  hanyalah fana. Obat yang hanya menyembuhkan sementara.

Masa depan memang belum pasti, tapi lakukanlah usaha yang pasti.

Begitulah kira - kira yang sering di ucapkan atau kita dengar dari para  tetua kita.

Saat ini, sekali saja kita menscroll sosial media , langsung kita temui beberapa video keuwuan pasangan muda mudi. Tak jarang sering ku temui komentar yang bertuliskan uwuphobia. Seketika insicure pun sering muncul disaat seperti ini, dan langsung menganggap bahwasanya diri nya kurang beruntung dibandingkan mereka yang hanya dalam bingkai video berdurasi semenit itu. Padahal kita tak pernah tau apa saja yang terjadi di luar itu semua. Selalu percayalah pada Tuhan yang telah menuliskan semua yang terbaik bagi hambaNya. 

Orang-orang mungkin terlihat sempurna, tapi sadarilah kau juga ciptaanNya yang tak kalah dari mereka yang kau anggap sempurna. Mereka yang kau anggap sempurna memang berhasil mencapai body goals yang diinginkan dengan melakukan perawatan ini dan itu. Sedangkan kau duduk di ruanganmu sendiri, beranjak dan berkaca pada cermin. Lalu berkata “Jauh banget ya, aku yang buluk gini bisa apa". Apa sih yang bisa diapresiasi dalam diri ini? Apa coba yang bisa dibanggakan, bakat aja aku  ga punya. Aku mempunyai kelebihan apa? Kenapa aku nggak seperti orang-orang itu? Kemampuan berbicaraku sangat buruk, menulis saja apakah cukup ya? Aku hanya pandai menggambar. Bernyanyi pun aku sangat payah, aku malu suaraku terdengar sumbang. 

Kupikir memang  lebih susah ya mencintai diri sendiri dari pada mencintai orang lain. Bahkan beberapa orang selalu memikirkan kemampuan yang dimiliki orang lain. Padahal kemampuan yang ia miliki juga diinginkan orang lain.

Nyatanya Kehebatanmu bukan hanya dilihat dari lancarnya berbicara, juga bukan dari seberapa bagusnya ketika kamu menyanyi. Mau menuduh Tuhan karena tidak adil menciptakan makhluk-Nya? Tuhan menciptakan manusia dengan bermacam-macam kelebihan. Semua memiliki perbedaan, kelebihan, semua sudah ada porsi dan kedudukannya masing-masing.

Jadi teruntuk puan dan tuan berdamailah dengan diri sendiri. Tidak baik rasanya jika merendahkan diri sendiri hanya karena orang lain itu lebih dari kita. Jadilah versi terbaik dengan caramu sendiri, belajar untuk merasa cukup dengan dirimu. Lakukanlah ini dulu, karena kamu butuh dirimu untuk menjalani kerasnya hidup.


Untukmu siapapun itu.

dariku yg juga sesekali merasa overthinking^.^


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Oleh : Ajeng Febrian Surbakti      Sebagai mahasiswa itu sendiri, kampus adalah rumah kedua kita, tempat kita menimba ilmu dan membentuk mimpi-mimpi yang lama kita bangun. Namun, bayang-bayang kekerasan seksual yang mencuat di UINSU baru-baru ini merobek rasa aman yang seharusnya kita rasakan. Sebagai kader (Himpunan Mahasiswa Islam) HMI, sepatutnya kita tidak bisa tinggal diam. Dalam tulisan ini saya, Ajeng Febrian Surbakti ingin mengulas sedikit lewat teropong kader HMI. Perlu diketahui benang kusut permasalahan ini merupakan tanggung jawab moral kita bersama, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.      Dari sudut pandang mahasiswa, salah satu akar masalah yang paling terasa adalah kurangnya ruang aman dan mekanisme pelaporan yang efektif. D...
  Curhatan Mahasiswa Tentang Kuliah Daring Selama Pandemi Oleh : Desi Rambe      Banyak sekali suka duka yang dialami mahasiswa pada saat ini dalam kegiatan kuliah daring selama pandemi. Kuliah daring tentunya berdampak secara langsung civitas akademika kampus, baik itu tenaga pendidik, tenaga kepegawaian, hingga mahasiswa. Mahasiswa merasakan campur aduk antara senang dan sedih dengan keputusan kuliah daring sampai saat ini. Mahasiswa mengaku sedih karena banyaknya kendala dan perkuliahan yang tidak semaksimal kuliah tatap muka, mulai dari kendala jaringan dan lain sebagainya. Dan senangnya kuliah daring karena tidak dipaksakan masuk ke kampus saat kondisi belum membaik sepenuhnya.      Mahasiswa stambuk 2020 yang tidak pernah sama sekali merasakan kegiatan perkuliahan secara tatap muka langsung dengan dosen masih berharap agar bisa dilakukan kegiatan perkuliahan ini secara offline . Banyak haluan yang timbul di benak mahasiswa sewaktu menjadi mahasis...

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS Oleh: Rizky Nanda Pratama Sebelum kita melangkah lebih jauh dalam pembahasan ini, ada baiknya kita menilik kembali sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Apa sebenarnya HMI? Mengapa organisasi ini didirikan, dan apa alasan keberadaannya masih dipertahankan hingga kini? Memahami sejarah dan tujuan HMI sangat penting agar setiap kader dapat menyerap pesan yang terkandung di dalamnya. Tanpa pemahaman yang utuh, ada risiko bahwa kader tidak akan terlibat aktif dalam perjuangan untuk mewujudkan misi HMI. Dampaknya bisa beragam: misi yang berbunyi “terbinanya insan akademik, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala” dapat dianggap sebagai sekadar susunan kata tanpa makna, bahkan dapat dianggap sepele sehingga tidak layak untuk diperjuangkan. Oleh karena itu, memahami HMI secara menyeluruh, termasuk motivasi di balik pendirian...