Pendidikan ialah hal yang
menjadi fondasi dasar dalam membangun suatu bangsa dan peradaban. Kemajuan
dalam aspek pendidikan menjadi penentu masa depan bagi seluruh masyarakat dan
lingkungan alam sekitar. Perhatian serius terhadap pendidikan tidak hanya
terdapat di dalam institusi pendidikan formal saja tetapi harusnya bermula dan
bermuara dari dalam rumah. Tugas seorang ibu bukan saja mengurus keperluan
suami maupun anak-anaknya akan tetapi memberikan pelajaran dan pembelajaran
mengenai etika maupun moral dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan yang
komperhensif dan kolaboratif yang melibatkan berbagai aspek kehidupan ialah menjadi
kunci kesuksesan utama. Kerja sama antrara pihak sekolah dan para orang tua
murid dan peserta didik sudah harus dimulai dari hari pertama mereka
bersekolah. Pihak sekolah dituntut memberikan kurikulum yang tidak hanya
mencerdaskan aspek intelektual namun lebih menitik beratkan aspek moral atau
kecerdasan emosional siswa melalui keteladanan dan bimbingan dari para guru dan
semua pihak yang terkait.
Akselerasi KEMENDIKBUD
Departemen pendidikan nasional (KEMENDIKBUD)
sebagai pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia sudah semestinya merumuskan
kembali bagaimana cara memperbaiki pendidikan Indonesia yang saat ini lebih
didominasi kompetisi dari pada nilai-nilai luhur dan moral bangsa. Kurikulum
yang diterapkan saat ini menitik beratkan kepada penguasaan materi pelajaran
yang cukup memusingkan para siswa terutama sekolah dasar di mana bukan
pelajaran yang harus diajarkan, namun nilai-nilai dasar dan moral seperti
kesabaran, kedisiplinan, kemandirian maupun kesopanan dan nilai-nilai etika
lainnya. Dilansir dari laman Wikipedia
bagaimana pendidikan di Negara maju seperti Finlandia memberikan keleluasaan kepada
guru untuk mengedepankan sisi moral dan nilai-nilai luhur di dalam interaksi
dengan para siswa di sekolah. Metode
transfer ilmu pengetahuan yang terdapat di Finlandia melandaskan kepada
semangat belajar sambil bermain dengan tidak mengenyampingkan fokus dan tujuan
utama dari pendidikan itu sendiri, hal itulah yang menjadikan Finlandia memiliki
kualitas pendidikan tertinggi di dunia. Realitas yang terdapat dari Negara maju
dalam sistem pendidikannya ialah membuat
proses belajar menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan bagi
seluruh siswa tanpa membeda-bedakan status, kondisi dan latar belakang yang
mereka miliki. Para stake holder pendidikan di Indonesia seharusnya bisa
meniru dan mengaplikasikan sistem pendiikan yang ada di Finlandia dan
mengakselerasikannya dengan budaya dan nilai-nilai luhur pendidikan di
Indonesia.
Beban Mental Siswa
Sungguh ironi fakta yang
terlihat di Indonesia di mana siswa diharuskan belajar mengikuti kurikulum yang
sebelumnya telah mengalami beberapa kali perubahan namun masih saja tetap
menuntut siswa dalam menguasai banyak pelajaran atau bidang studi di sekolah.
Penguasaan dan pemahaman siswa terutama yang masih pada level awal atau yang
berada pada bangku sekolahan tentunya belum maksimal dalam pengembanan dan
potensi kecerdasaan intelektualnya. Siswa seharusnya diberikan keringanan dalam
proses belajarnya sehingga belajar tidak lagi menjadi beban yang memberatkan
namun suatu panggilan dan kegiatan yang mengasyikan. Nana Sujana dalam
penelitiannya tahun 2008 yang menitik beratkan pada proses dan hasil dar pengajaran siswa sekolah
dasar menyebutkan banyak siswa yang merasa berat dalam mengikuti proses belajar
di sekolah. Beban yang diberikan pihak sekolah maupun guru di kelas serta
tekanan psikologis dari lingkungan menjadi faktor utama yang harus dibenahi
bersama. Pelajaran dan pemebelajaran yang seharusnya menhasilkan output budi
pekerti yang luhur kenyataanya seperti jauh panggang dari pada api, dan itu
merupakan tugas setiap elemen masyarakat.
Dilematis Nilai Pelajaran
Penguasaa
materi pelajaran yang menuntut siswa untuk dapat mengahislkan nilai tinggi dan
unggul ialah menjadi suatu paradox yang sulit dimengerti. Di satu sisi siswa
dituntut memiliki emosional yang luhur namun di sisi lain tekanan terhadap
nilai yang tinggi dan hasil rapot yang baik membuat siswa cendrung mementingkan
hasil dari pada proses pelaran dan pembelajaran tu senidri. Orang tua yang
menitik beratkan nilai yang baik kepada anaknya pada ahirnya akan membuat anak
tersebut khawatir apabila mendapat nilai standar apalagi nilai yang rendah.
Untuk itulah para orang tua dapat memahami dan memiliki kesadaran agar tidak
memfokuskan proses pembelajaran pada aspek nilai dan mengeyampingkan proses dan
usaha anak didiknya selama di sekolah. Kesuskesan siswa dalam kehidupan pribadinya
tidak hanya diukur dari isi rapot dan gelar maupun ijazah yang ia dapat dan
raih. Kecerasan akademik hanyalah salah satu kecerdasan yang bukan menjadi
fondasi utama kebahagiaan dan kesuksesan peserta didik di tengah kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Fenomena Ujian
Proses pembelajaran yang
bepangku pada nilai-nilai akademik dan kompetisi penguasaan materi menjadi
fokus utama pendidikan di Indonesia untuk saat ini. Akibat fokus yang hanya
menitik beratkan pada gelar dan nilai akademik mengakibatkan runtuhnya moral
siswa yang secara massif didorong untuk mengejar nilai sebagus-bagusnya
agarmenjadi kebanggaan di sekolah maupun di rumah. Keadaan ironis tersebut
memunculkan beberapa sekolah yang abai dan kurang mempehatikan aspek integritas
dalam diri siswa. Beberapa contoh yang sering muncul ialah di saat ujian akhir
sekolah siswa dibantu dalam mendapatkan nilai yang tinggi agar bisa masuk
sekolah favorit dan dapat menaikan citra seklah tersebut. Hal ini telah lama terjadi di mulai dari masa
ujian ebtanas, UN, UAN dan ujian-uian akhir lainnya. Para guru diharapkan
mendorong siswa untuk memiliki integitas dan moral yang baik dan memmaparkan
bahwa di dunia kerja nantinya yang diminta dan dibutuhkan bukan nilai akademis
tetapi kemampuan juga keahlian dan penguasaan dalam bidang pada perusaahaan
tersebut. Berdasarkan fakta tersebut sudah seharusnya para guru tidak
membebankan siswa untuk mengejar dan hanya mendapatkan nilai-nilai akademik
apalagi menyindir siswa yang mendapatkan nilai tidak sesuai. Nilai ujian
sekolah tidaklah harus menjadi patokan dan tolak ukur dalam menilai kualitas
dari peserta didik. Ada Cara lain yang dapat memberikan penilian komperhensif
tanpa harus bersandar kepada soal dan jawaban siswa, misalnya dengan memberikan
suatu tugas berbentuk presentasi sekitar lima menit lamanya untuk siswa
menjelaskan di depan kelas sejauh mana pemahaman yang telah di dapat.
Solusi
Fenomena pendidikan di Indonesia telah mengalami penurunan dan degradasi moral yang banyak dirasakan semua aspek insan pendidik guru maupun intrumen yang terkait di dalamnya. Kurikulum yang seharusnya meletakan dasar pendidikan malah berbalik menjadi tekanan bagi para siswa yang diharuskan untuk dapat mengerti dan menguasai banyak pelajaran atau berbagai macam bidang studi di sekolah. kemerdekaan dalam belajar sudah seharusnya menjadi kemutlakan dan hak setiap siswa dimana pun berada. Akses pendiikan yang merata juga seharusnya di dapatkan dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Di beberapa tempat dapat kita temui fasilitas yang masih minim yang masih ada tempat-tempat yang serba kekurangan dalam penyedian sarana prasarananya maupun akses menuju ke tempat sekolah tersebut, seperti yang dilansir www.republika.co.id/berita/qd5of6393/ironi-ribuan-madrasah-tak-berlistrik-di-pulau-jawa. fakta tersebut memaparkan masih banyak sekolah yang tidak mendapat akses listrik yang memadai serta fasilitas utama yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Selain dari pada perbaikan – sarana prasarana serta fasilitas bangunan sekolah hal yang paling penting yang menjadi tajuk utama pembangunan bangsa ialah pada penguatan nilai-nilai moral yang menjadi fondasi dasar utama pendidikan di Indonesia serta merupakan kunci utama masa depan bangsa dan Negara. Untuk itu marilah semua pihak dapat menjadi solusi dan melakukan perbaikan-perbaikan dari hal terkecil, yang terdekat serta di mulai saat ini.
Biografi Penulis :
Muhammad Hanif, M.Th. I seorang pengajar yang menempuh masa pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Percobaan Negeri Medan dan melanjutkan Sekolah Menengah Pertama/madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah (MA) di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta. Pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Jurusan Tafsir Hadis dilanjutkan jenjang Magister Tafsir Hadis di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Penulis pernah menjadi guru pendamping di MAN 1 Medan 2018-2019 dan dosen di FKM UIN-SU 2017-2019, saat ini aktif sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara. Penulis sendiri pernah menjadi bagian kader ulama di MUI Medan 2011 dan aktif sebagai peneliti dalam program mufassir alquran di Yayasan Pusat Studi Alquran diasuh Prof.Quraish Shihab.
Komentar
Posting Komentar