Langsung ke konten utama

Pendidikan Quo Vadis

 

Pendidikan yang Rekonstruktif
Oleh : Muhammad Hanif, M.Th.I

Pendidikan ialah hal yang menjadi fondasi dasar dalam membangun suatu bangsa dan peradaban. Kemajuan dalam aspek pendidikan menjadi penentu masa depan bagi seluruh masyarakat dan lingkungan alam sekitar. Perhatian serius terhadap pendidikan tidak hanya terdapat di dalam institusi pendidikan formal saja tetapi harusnya bermula dan bermuara dari dalam rumah. Tugas seorang ibu bukan saja mengurus keperluan suami maupun anak-anaknya akan tetapi memberikan pelajaran dan pembelajaran mengenai etika maupun moral dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan yang komperhensif dan kolaboratif yang melibatkan berbagai aspek kehidupan ialah menjadi kunci kesuksesan utama. Kerja sama antrara pihak sekolah dan para orang tua murid dan peserta didik sudah harus dimulai dari hari pertama mereka bersekolah. Pihak sekolah dituntut memberikan kurikulum yang tidak hanya mencerdaskan aspek intelektual namun lebih menitik beratkan aspek moral atau kecerdasan emosional siswa melalui keteladanan dan bimbingan dari para guru dan semua pihak yang terkait. 

Akselerasi KEMENDIKBUD

 Departemen pendidikan nasional (KEMENDIKBUD) sebagai pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia sudah semestinya merumuskan kembali bagaimana cara memperbaiki pendidikan Indonesia yang saat ini lebih didominasi kompetisi dari pada nilai-nilai luhur dan moral bangsa. Kurikulum yang diterapkan saat ini menitik beratkan kepada penguasaan materi pelajaran yang cukup memusingkan para siswa terutama sekolah dasar di mana bukan pelajaran yang harus diajarkan, namun nilai-nilai dasar dan moral seperti kesabaran, kedisiplinan, kemandirian maupun kesopanan dan nilai-nilai etika lainnya.  Dilansir dari laman Wikipedia bagaimana pendidikan di Negara maju seperti Finlandia memberikan keleluasaan kepada guru untuk mengedepankan sisi moral dan nilai-nilai luhur di dalam interaksi dengan para siswa di sekolah.  Metode transfer ilmu pengetahuan yang terdapat di Finlandia melandaskan kepada semangat belajar sambil bermain dengan tidak mengenyampingkan fokus dan tujuan utama dari pendidikan itu sendiri, hal itulah yang menjadikan Finlandia memiliki kualitas pendidikan tertinggi di dunia. Realitas yang terdapat dari Negara maju dalam sistem pendidikannya  ialah membuat proses belajar menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan bagi seluruh siswa tanpa membeda-bedakan status, kondisi dan latar belakang yang mereka miliki. Para stake holder pendidikan di Indonesia seharusnya bisa meniru dan mengaplikasikan sistem pendiikan yang ada di Finlandia dan mengakselerasikannya dengan budaya dan nilai-nilai luhur pendidikan di Indonesia. 

Beban Mental Siswa

Sungguh ironi fakta yang terlihat di Indonesia di mana siswa diharuskan belajar mengikuti kurikulum yang sebelumnya telah mengalami beberapa kali perubahan namun masih saja tetap menuntut siswa dalam menguasai banyak pelajaran atau bidang studi di sekolah. Penguasaan dan pemahaman siswa terutama yang masih pada level awal atau yang berada pada bangku sekolahan tentunya belum maksimal dalam pengembanan dan potensi kecerdasaan intelektualnya. Siswa seharusnya diberikan keringanan dalam proses belajarnya sehingga belajar tidak lagi menjadi beban yang memberatkan namun suatu panggilan dan kegiatan yang mengasyikan. Nana Sujana dalam penelitiannya tahun 2008 yang menitik beratkan pada  proses dan hasil dar pengajaran siswa sekolah dasar menyebutkan banyak siswa yang merasa berat dalam mengikuti proses belajar di sekolah. Beban yang diberikan pihak sekolah maupun guru di kelas serta tekanan psikologis dari lingkungan menjadi faktor utama yang harus dibenahi bersama. Pelajaran dan pemebelajaran yang seharusnya menhasilkan output budi pekerti yang luhur kenyataanya seperti jauh panggang dari pada api, dan itu merupakan tugas setiap elemen masyarakat.

Dilematis Nilai Pelajaran

            Penguasaa materi pelajaran yang menuntut siswa untuk dapat mengahislkan nilai tinggi dan unggul ialah menjadi suatu paradox yang sulit dimengerti. Di satu sisi siswa dituntut memiliki emosional yang luhur namun di sisi lain tekanan terhadap nilai yang tinggi dan hasil rapot yang baik membuat siswa cendrung mementingkan hasil dari pada proses pelaran dan pembelajaran tu senidri. Orang tua yang menitik beratkan nilai yang baik kepada anaknya pada ahirnya akan membuat anak tersebut khawatir apabila mendapat nilai standar apalagi nilai yang rendah. Untuk itulah para orang tua dapat memahami dan memiliki kesadaran agar tidak memfokuskan proses pembelajaran pada aspek nilai dan mengeyampingkan proses dan usaha anak didiknya selama di sekolah. Kesuskesan siswa dalam kehidupan pribadinya tidak hanya diukur dari isi rapot dan gelar maupun ijazah yang ia dapat dan raih. Kecerasan akademik hanyalah salah satu kecerdasan yang bukan menjadi fondasi utama kebahagiaan dan kesuksesan peserta didik di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 Fenomena Ujian

Proses pembelajaran yang bepangku pada nilai-nilai akademik dan kompetisi penguasaan materi menjadi fokus utama pendidikan di Indonesia untuk saat ini. Akibat fokus yang hanya menitik beratkan pada gelar dan nilai akademik mengakibatkan runtuhnya moral siswa yang secara massif didorong untuk mengejar nilai sebagus-bagusnya agarmenjadi kebanggaan di sekolah maupun di rumah. Keadaan ironis tersebut memunculkan beberapa sekolah yang abai dan kurang mempehatikan aspek integritas dalam diri siswa. Beberapa contoh yang sering muncul ialah di saat ujian akhir sekolah siswa dibantu dalam mendapatkan nilai yang tinggi agar bisa masuk sekolah favorit dan dapat menaikan citra seklah tersebut.  Hal ini telah lama terjadi di mulai dari masa ujian ebtanas, UN, UAN dan ujian-uian akhir lainnya. Para guru diharapkan mendorong siswa untuk memiliki integitas dan moral yang baik dan memmaparkan bahwa di dunia kerja nantinya yang diminta dan dibutuhkan bukan nilai akademis tetapi kemampuan juga keahlian dan penguasaan dalam bidang pada perusaahaan tersebut. Berdasarkan fakta tersebut sudah seharusnya para guru tidak membebankan siswa untuk mengejar dan hanya mendapatkan nilai-nilai akademik apalagi menyindir siswa yang mendapatkan nilai tidak sesuai. Nilai ujian sekolah tidaklah harus menjadi patokan dan tolak ukur dalam menilai kualitas dari peserta didik. Ada Cara lain yang dapat memberikan penilian komperhensif tanpa harus bersandar kepada soal dan jawaban siswa, misalnya dengan memberikan suatu tugas berbentuk presentasi sekitar lima menit lamanya untuk siswa menjelaskan di depan kelas sejauh mana pemahaman yang telah di dapat.

Solusi

            Fenomena pendidikan di Indonesia telah mengalami penurunan dan degradasi moral yang banyak dirasakan semua aspek insan pendidik guru maupun intrumen yang terkait di dalamnya. Kurikulum yang seharusnya meletakan dasar pendidikan malah berbalik menjadi tekanan bagi para siswa yang diharuskan untuk dapat mengerti dan menguasai banyak pelajaran atau berbagai macam bidang studi di sekolah. kemerdekaan dalam belajar sudah seharusnya menjadi kemutlakan dan hak setiap siswa dimana pun berada. Akses pendiikan yang merata juga seharusnya di dapatkan dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.  Di beberapa tempat dapat kita temui fasilitas yang masih minim yang masih ada tempat-tempat yang serba kekurangan dalam penyedian sarana prasarananya maupun akses menuju ke tempat sekolah tersebut, seperti yang dilansir www.republika.co.id/berita/qd5of6393/ironi-ribuan-madrasah-tak-berlistrik-di-pulau-jawa. fakta tersebut memaparkan masih banyak sekolah yang tidak mendapat akses listrik yang memadai serta fasilitas utama yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Selain dari pada perbaikan – sarana prasarana serta fasilitas bangunan sekolah hal yang paling penting yang menjadi tajuk utama pembangunan bangsa ialah pada penguatan nilai-nilai moral yang  menjadi fondasi dasar utama pendidikan di Indonesia serta merupakan kunci utama masa depan bangsa dan Negara. Untuk itu marilah semua pihak dapat menjadi solusi dan melakukan perbaikan-perbaikan dari hal terkecil, yang terdekat serta di mulai saat ini.


Biografi Penulis :

Muhammad Hanif, M.Th. I seorang pengajar yang menempuh masa pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Percobaan Negeri Medan dan melanjutkan Sekolah Menengah Pertama/madrasah Tsanawiyah  hingga Madrasah Aliyah (MA) di  Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta. Pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Jurusan Tafsir Hadis dilanjutkan jenjang Magister Tafsir Hadis di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Penulis pernah menjadi guru pendamping di MAN 1 Medan 2018-2019 dan dosen di FKM UIN-SU 2017-2019, saat ini aktif sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara. Penulis sendiri pernah menjadi bagian kader ulama di MUI Medan 2011 dan aktif sebagai peneliti dalam program mufassir alquran di Yayasan Pusat Studi Alquran diasuh Prof.Quraish Shihab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Oleh : Ajeng Febrian Surbakti      Sebagai mahasiswa itu sendiri, kampus adalah rumah kedua kita, tempat kita menimba ilmu dan membentuk mimpi-mimpi yang lama kita bangun. Namun, bayang-bayang kekerasan seksual yang mencuat di UINSU baru-baru ini merobek rasa aman yang seharusnya kita rasakan. Sebagai kader (Himpunan Mahasiswa Islam) HMI, sepatutnya kita tidak bisa tinggal diam. Dalam tulisan ini saya, Ajeng Febrian Surbakti ingin mengulas sedikit lewat teropong kader HMI. Perlu diketahui benang kusut permasalahan ini merupakan tanggung jawab moral kita bersama, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.      Dari sudut pandang mahasiswa, salah satu akar masalah yang paling terasa adalah kurangnya ruang aman dan mekanisme pelaporan yang efektif. D...
  Curhatan Mahasiswa Tentang Kuliah Daring Selama Pandemi Oleh : Desi Rambe      Banyak sekali suka duka yang dialami mahasiswa pada saat ini dalam kegiatan kuliah daring selama pandemi. Kuliah daring tentunya berdampak secara langsung civitas akademika kampus, baik itu tenaga pendidik, tenaga kepegawaian, hingga mahasiswa. Mahasiswa merasakan campur aduk antara senang dan sedih dengan keputusan kuliah daring sampai saat ini. Mahasiswa mengaku sedih karena banyaknya kendala dan perkuliahan yang tidak semaksimal kuliah tatap muka, mulai dari kendala jaringan dan lain sebagainya. Dan senangnya kuliah daring karena tidak dipaksakan masuk ke kampus saat kondisi belum membaik sepenuhnya.      Mahasiswa stambuk 2020 yang tidak pernah sama sekali merasakan kegiatan perkuliahan secara tatap muka langsung dengan dosen masih berharap agar bisa dilakukan kegiatan perkuliahan ini secara offline . Banyak haluan yang timbul di benak mahasiswa sewaktu menjadi mahasis...

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS Oleh: Rizky Nanda Pratama Sebelum kita melangkah lebih jauh dalam pembahasan ini, ada baiknya kita menilik kembali sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Apa sebenarnya HMI? Mengapa organisasi ini didirikan, dan apa alasan keberadaannya masih dipertahankan hingga kini? Memahami sejarah dan tujuan HMI sangat penting agar setiap kader dapat menyerap pesan yang terkandung di dalamnya. Tanpa pemahaman yang utuh, ada risiko bahwa kader tidak akan terlibat aktif dalam perjuangan untuk mewujudkan misi HMI. Dampaknya bisa beragam: misi yang berbunyi “terbinanya insan akademik, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala” dapat dianggap sebagai sekadar susunan kata tanpa makna, bahkan dapat dianggap sepele sehingga tidak layak untuk diperjuangkan. Oleh karena itu, memahami HMI secara menyeluruh, termasuk motivasi di balik pendirian...