Babak
kedua : Pukul Tiga dini hari
Oleh
: A.R.S
09
Desember 2021
Kepada
rekan rekan seperjuangan
Kepada
seluruh saudara saudari
Mendung,
sebagaimana biasanya di sini dibulan November-Desember akhir tahun, aku melihat
orang orang di sekelilingku terus mengasah tanpa rasa putus asa dan pasrah
terhadap kondisi dewasa saat ini. Terlalu lama mengamati sekeliling membuat aku
terpanggil dan merasa menggigil dengan kondisi kondisi ku saat ini, diam. aku
tahu, kepada mereka yang terus mengasah diri pasti ada setiap rasa jengkel yang
tumbuh dan siap untuk menusuk, mencabik, dan menghunus semangatnya. Akan
tetapi, muncul satu pertanyaan di dalam
tempurung kepala ku, belum mampu menyibak kelambu yang menutupi takdir takdir
yang sudah tertulis pada mereka. Dan terus bertanya, walaupun aku yakin
pertanyaan ku ini bakal sia sia, karena tidak akan ada yang menggubris nya.
adakah ketidakpastian dalam takdir seorang manusia yang pasti? Oh tidak usah
dibahas ini hanya pertanyaan dari seorang pemuda luntang lantung yang belum ada
arah.
Tapi
aku ingin mengingatkan sesuatu, sudah dari dulu kukatakan ketidakpastiian
kehidupan itu telah sedemikian adanya. Tidak ada individu yang dapat memastikan
kehidupan. Aku yakin dan percaya ketika orang di sekeliling ku yang terus mentransformasikan dirinya menjadi
lebih baik, terlepas dari semua pengalaman yang telah dilewati dan dialami,
entah itu mensukakan diri ataupun mendukakan diri, kamu, aku, kita dan semua individu itu memiliki hati
yang luas, lapang, dan besar, dimana semua lara dan luka dapat ditanggung dan
diberi makna.
Baiklah,
aku terlalu boros dengan yang namanya angan terlalu boros juga dengan yang
namanya harap. Tatkala keborosan ini menumbuhkan sesuatu kecacatan yang
berdampak pada kesalahan dan kekeliruan. Tapi bagaimanapun, beberapa
diantaranya diakibatkan oleh dinamika dinamika kehidupan ,perlawanan ,
pergerakan dan proses. Sementara beberapa yang lainnya, adalah kesalahan yang
sudah paling tidak mengarah dalam proses penyelesaian dan yang lainnya adalah
sebuah kesalahan yang bukan kesalahan atau bukan disengaja. Memang agak sedikit
menggelikkan, tetapi bagi para pelaku kesalahan yang bukan di sengaja,
merupakan sebuah contoh menyebrangi lautan (bukan secara metaforis ) untuk
mencapai suatu negeri yang agung . disisi lain hal hal seperti ini harus
dipahami bahwa hal ini merupakan sebuah gerakan yang sedang bergumam dan
berontak ,bila kalian imbuhkan pada ini dari sekian generasi yang menjadi
korban kegagalan akibat sebuah ketidak sengajaan sebuah pergerakan akan menjadi
tantangan pendatang baru yang bisa dimaklumi, begitu pula permintaan akan
informasi dan referensi yang bisa turut mengklasifikasikan apakah si pendatang
baru ini tiba dengan aman atau tergopo gopo di negeri yang agung tersebut.
Begitulah,
aku berusaha seringkas mungkin karena orang harus jitu dalam mengakui
kesalahannyaa dan kekeliruannya yang begitu luas solusinya. Atau begini? Mana
kala orang tersebut lebih manis ketika dia hanya diam saja? Oh tidak semudah
itu, kami mengucapkan apa yang kami rasakan dan apa yang kami pikirkan. Senjata
kami tidak dipakai untuk memaksakan sebuah gagasan atau cara hidup, tapi lebih
untuk membela suatu cara berpikir dan cara pandang akan dunia dan dalam
berhubungan dengan yang lainnya, sesuatu yang meski bisa belajar banyak dari
pikiran pikiran dan cara hidup yang lain , juga punya banyak hal buat
diajarkan. Sebagian orang pasti murka, geram dan gondok karena mengganggap
apabila seseorang melakukan kesalahan atau kekeliruan tanpa di sengaja, tapi
bagi sebagian orang yang tidak terlalu serius mengganggapnya, sebab siapapun
yang mengganggap dirinya serius dengan praduga dari orang lain akan berhenti
pada pemikiran bahwa kebenaran harus menjadi kebenaran bagi semua orang untuk
selamanya. Tidak ada yang tegak berdiri,
hanya air yang tenang, segara teduh, sendiri sunyi, tidak masalah.
Aku
masih bingung dengan apa harus memulai nya, lagi pula tulisan ini hanya sebuah
upaya untuk memeluk seseorang yang merasa dirinya gagal atas kesalahannya. Dan
kini, sembari kutuliskan larik larik ini, aku paham bahwa barangkali memang
selalu menjadi niatan agar dapat bermamfaat untuk bicara tentang diri sendiri,
pencapaian, langkah langkah keliru, mimpi buruk dan keterputusan kesalahanya. Tidak
apa sesekali mengakui kesalahan, ini lah kekuatan terindah. Jika memang sudah,
ya sudahlah, dan ingat juga jangan susui terus harimu dengan pikiran buruk, kan
belum terjadi juga. angkat topi setinggi tingginya, menunduk serendah rendahnya
untuk kalian. Bukan hal gampang perkara mengakui kesalahan, karena sejak kecil
kita didik dibangku sekolah untuk selalu benar, dan sebuah kesalahan atau
kekeliruan adalah aib. Jika kita,aku kalian membuat kesalahan , mari dirangkul
bukan dipukul.
Ketika
membicarakan sebuah mimpi, kita justru perlu untuk bermimpi. Karena mimpi itu
yang menentukan perjalanan, mimpi yang mengubah manusia. Justru karena masih
ada mimpi, kita jadi punya alasan untuk terus maju, terus berjalan dan
mengejar. Tanpa mimpi sama sekali apapula arti sebuah hidup ini. Jangan takut
gagal dan bermimpi. Hidup ini butuh jeda
juga, berkenala sesuka hatimu, bercengkrama dengan siapapun yang kamu mau,
bekerja sekras yang bisa, jika tiba waktunya tutuplah pintu untuk semua tamu,
taka da amarah tak ada duka, padamlah bersama.
Bulan
muncul di bahu malam , namun hanya sejenak. Awan berpencar ,seperti kelambu
yang disibak. Lantas makhluk malam itu memamerkan pendar terangnya. Orang orang
yang tak tahu berkata bahwa malam menyimpan banyak bahaya besar, bahwa malam
adalah gua penuh penyamun tempat bayang dan ketakutan. Di jam tiga
dini hari ini, malam tetap disini dengan sisi sisi, pintu pintu dan
jendala jendalanya. Ia sendirian hidup berkeliaran membuat terang yang
menggantung di perairan gelap. Jelas malam punya bayang bayangnya , tapi
menggantung di perairan gelap. Aku teringat dengan perkataan Dale Carnegie, ia
mengatakan “ jika kamu tidak bisa tidur,
bangunlah dan lakukan sesuatu daripada berbaring sambil mencemaskan diri.
Kekhawatiran itulah yang membuatmu terjaga, bukan ketidak sanggupan untuk tidur
“ aku merasakan seperti apa yang dikatakan oleh beliau, lalu dengan
memberanikan diri aku bangkit lalu menulis dan mencoba untuk berpikir di
gelapnya malam walaupun hanya tulisan tulisan usang yang tidak ada nilai nya.
Intinya
dalam tulisan ini bahwasanya mengatasi sebuah kegagalan ataupun permasalahan,
sepintar apapun kamu, setinggi apapun ilmumu, sehebat apapun pengertianmu
terhadap agama dan quran, jika sudah dilandasi kebencian, hasilnya pasti
mudharat seperti apa yang dikatakan oleh Cak Nun. Bak
ibarat sekuat apapun bumantara menggenggam butala, mereka tetaplah aksa, dan
selamanya akan tetap enigma. Jika dengan membaca tulisan ini teman teman
merasa tergugah dan terinpirasi untuk melakukan sebuah perubahan, saya bahagia.
Tinta penaku sudah hampir habis, sudah kalian isi kembali. Setidaknya tujuan
saya untuk mencoba melakukan sesuatu yang bermamfaat biarpun melalui ajakan
dari sebuah tulisan akhirnya sudah tercapai.
Terakhir
dari tulisan ini, tak ada yang menyenangkan dalam sebuah ketidakjelasan. Pun
dengan hidup, kita menuntut kepastian dalam ketidakpastian. Hidup adalah
miniature kecil dalam ketidakpastian. Kita bekerja , kita tertawa, kita
bencengkrama untuk semua hal yang penuh dengan ke abu abuan, toh dbegitu dunia
bergerak jelas tidaknya suatu hubungan kita sendirilah yang berhak menjelaskan.
Hanya doa doa pendeklah yang menjangkau ketidakpastian yang panjang tentang
kita dan takdir. Tidurlah kita bukan robot yang bisa bergerak seharian yang
jika mati tinggal diperbaiki dan bukan pula Jakarta yang tak pernah malam.
Biarkan tuhan yang menghendaki proposal kehidupan yang kau lampirkan dalam
setiap doa di Penghujung MALAM.
Sudah
hampir larut bung, mari tidur dan beristirahatlah. Selamat tidur , kita adalah
ketiadaan yang sengaja di ada ada
Komentar
Posting Komentar