Langsung ke konten utama

Kepemimpinan

 

Kepemimpinan

Oleh : Mangun Angkat

 

 

Hari itu di antium Roma, selepas bertubi-tubi masalah menghantam Cicero, ia memanggil Tiro, pengawal setianya, dan bertanya apa satu-satunya senjata yang kumiliki Tiro? Lalu menjawabnya sendiri, " ini ujarnya sambil menunjuk buku-bukunya. "KATA-KATA. Caesar dan pompeius punya tentara, crassus punya harta, cloudius punya pengawal di jalan. Satu-satunya tentaraku adalah kata-kata. Dengan bahasa aku meninggikan derajat, dan dengan bahasa aku akan bertahan. Dan sejarah memang mencatat bahwa kata-kata yang membuat nama cicero abadi sebagai orator paling brilian Romawi dan dikenang oleh sejarah selama lebih dari 2000 tahun.
            Leiden is lidjen. Memimpin adalah mengambil resiko hidup tak nyaman. Dan memang dalam banyak hal begitulah gambaran pemimpin ideal. Setiap pemimpin adalah juga pemimpi dan untuk mewujudkan mimpi itulah seorang pemimpin di uji. Ia jadi orang paling bertanggung jawab merubah keadaan, membelokkan jalannya sejarah. Ia akan di tempa dan di coba hingga daya tahan merubahnya jadi pemimpin yang benar-benar beda, saat ia mampu melewati itu, saat itula ia menjadi pemimpin besar. Ya setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Suka tidak suka, setiap orang yang hidup sesungguhnya terlibat dalam proses kepemimpinan. Paling tidak dituntut untuk memimpin dirinya sendiri untuk survive. Dan semua bermula dari mental. Semakin kuat mental, semakin mampu seseorang menghadapi ujian hidup. Oleh karena itu, manusia-manusia yang berjiwa besar sadar bahwa tugas kepemimpinan pertama adalah jiwanya sendiri.

Daya tahan kemudian menjadi salah satu kuncinya bagaimanapun berat kondisinya. Maka saat tantangan silih berganti memukul-mukul, saat keterbatasan menjadi tembok besar, saat luka-luka kian menganga, justru pada saat yang sama jiwa semacam membentuk imun. Pada akhirnya kesiapan memimpin diri sendiri itulah yang pada akhirnya menjadi karet penyandar bagi batu ketapel yang siap dilontarkan. Saat seorang pemimpin telah selesai dengan dirinya dan mengokohkan mental nya. Ia meletup jauh. Pada titik itulah ia siap mendaki level selanjutnya.

Mental selalu menjadi akar dari kepemimpinan, itulah yang kemudian membedakan pemimpin dengan pimpinan. Pimpinan dilahirkan oleh posisi dan jabatan, tapi pemimpin lahir dari jiwa yang jatuh bangun ditabrak oleh kehidupan. Leadership mentality adalah semacam daya penarik yang lahir dari dalam dada. Mereka yang memiliki daya penarik ini akan membuat orang-orang semakin lekat padanya tanpa di paksa-paksa atau tanpa di buat-buat, sehingga timbul hubungan yang kekal dan loyal.

Kepemimpinan adalah intelejensi yang di bungkus iman. Dengan kejeniusan, Mongol di bawah Jengis Khan ekspansi besar-besaran, kuasai Cina, Persia hingga Rusia, tapi kecerdasan saja belum cukup. Disamping wabah pes, perang saudara berlangsung terus menerus dalam radius kekuasaan Mongol.
Kecerdasan dan keimanan adalah sepasang sayap pada kepemimpinan. Saat salah satunya ditanggalkan, kepemimpinan akan terbang patah-patah. Kepemimpinan tanpa kecerdasan lemah. Kepemimpinan tanpa iman kosong. Jika kecerdasan dan keimanan telah digabung, maka lahirlah kepemimpinan yang kuat. Lebih dari itu kepemimpinan akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang bermoral.

Seorang pemimpin besar justru punya kekhawatiran besar yang menggayut di balik benaknya. Ia takut pada kepemimpinannya, pada rakyatnya, pada Tuhannya. Semakin besar kepemimpinan tertanam di lubuk jiwa seseorang. Semakin besar ia paham, bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang sangat besar dan serius. Thomas Jeferson bisa jadi salah satu tokoh besar itu, menjadi presiden 2 kali berturut-turut, dicintai rakyatnya dan dipilih untuk ketiga kalinya akan tetapi ia menolak. Baginya Presiden adalah tanggung jawab yang berat. Seorang pemimpin harus punya political feeling yang membuatnya sensitif dengan nilai kesantunan. Sense of leadership. Semacam kesadaran untuk menampilkan kepemimpinan yang bermoral. Soekarno, Hatta, Agus Salim, Natsir, Hamka, Umar, Khalid, Ahmad Yasin, Gandhi, Che Guevara, Roosevelt, Soe Hok Gie, Bruce lee, Hingga Marcus Tullius Cicero, Ayahanda Lafran Pane, Ahmad Fuadi Nasution, Riski Agussalim  Siregar, Aldi Munawar Kaloko serta berderet manusia yang turut membangun skenario kepemimpinan di Daerah, Indonesia bahkan Dunia. Tujuannya agar kita menghirup pelajaran dari mereka semua. Semoga kelak kita bisa sadar, leadership is not a position. It is a choice. If you choose to be a leader, then a leader you are.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Pilihan dalam Proses Ber-HMI : Refleksi Intelektual dan Tanggung Jawab Sosial Kader HMI

Oleh: Dimas Septiadi  Memilih untuk berproses di Himpunan Mahasiswa Islam sering kali terlihat sederhana dari luar, padahal di dalamnya ada keputusan yang tidak ringan. Banyak yang datang karena ajakan teman, karena penasaran, atau sekadar ingin mencoba. Tapi di titik tertentu, semua itu akan diuji. Apakah tetap bertahan, atau perlahan menjauh karena merasa tidak menemukan makna. Di sisi lain, ada hal yang sering tidak disadari sejak awal yaitu kepekaan sosial. Semakin lama berproses, semakin terasa bahwa apa yang dipelajari tidak cukup untuk diri sendiri. Ada realitas di luar yang tidak bisa diabaikan. Ada persoalan masyarakat yang menuntut kepedulian. Ini sejalan dengan nilai dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2 yang mengingatkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam keburukan. Dari sini, pelan-pelan tumbuh kesadaran bahwa ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan hanya kepuasan pribadi. Ber-HMI pelan pelan mengubah cara seseo...

Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik

  Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik Oleh: Selamat Ariady Tampubolon  Sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa persoalan ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh hari ini tidak bisa dilepaskan dari satu hal yang sering dianggap sepele yaitu disiplin administrasi. Padahal, justru dari administrasi yang tertiblah lahir perlindungan hak, kejelasan status kerja, hingga kepastian kesejahteraan bagi para pekerja. Di tengah berbagai dinamika,mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpastian kerja akibat kondisi alam, hingga geliat pembangunan infrastruktur, buruh kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Namun ironisnya, banyak persoalan yang mereka hadapi berakar dari lemahnya tata kelola administrasi: kontrak kerja yang tidak jelas, data pekerja yang tidak terdokumentasi dengan baik, hingga hak-hak normatif seperti jaminan sosial dan upah lembur yang tidak tercatat secara transparan. Ini bukan sekadar kelalaian tek...

Tradisi Intelektual Yang Lemah Adalah Ancaman Bagi Masa Depan Kaderisasi

 Oleh: Faisal Alhafiz Damanik Sebagai Kabid P3A Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa tantangan terbesar organisasi hari ini bukan hanya soal regenerasi, tetapi bagaimana melahirkan kader yang memiliki kualitas intelektual, daya kritis, dan integritas perjuangan yang kuat. Sebab organisasi akan kehilangan arah ketika tradisi berpikir, budaya riset, dan pembinaan kader tidak lagi menjadi prioritas utama. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, mahasiswa sering kali terjebak pada aktivitas seremonial tanpa memperkuat fondasi keilmuan dan kapasitas diri. Diskusi mulai berkurang, budaya membaca melemah, sementara semangat penelitian dan pengembangan gagasan belum tumbuh secara maksimal. Padahal, kekuatan HMI sejak dahulu lahir dari kader-kader yang berpikir kritis, mampu membaca realitas sosial, serta berani menawarkan solusi bagi umat dan bangsa. Persoalan ini menjadi refleksi penting bagi kita semua bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada...