Langsung ke konten utama

Melihat Kondisi HMI Sekarang, Pantaskah HMI Di Bubarkan?

Oleh: Khairul Fadli Manurung

Berdirinya suatu organisasi pasti mempunyai latar belakang sejarah, yang satu sama lain berbeda, tetapi justru perbedaan itulah yang menempatkan organisasi  itu pada ciri-ciri khusus atau kakteristik. 

HMI sebagai organisasi islam, tentu saja selalu seiring dengan gerakan perkembangan agama islam sebagai agama perjuangan, dan inilah yang menentukan dan mengilhami kelahiran HMI.

Namun melihat kondisi HMI sekarang banyak nberbagai pandangan kritis yang ditujukan kepada HMI, memperlihatkan banyaknya indikator-indikator kemunduran HMI yang secara empiris dapat dilihat dan dibuktikan.

Pengalaman selama empat puluh dua tahun aktif di HMI( agussalim sitompul masuk HMI 15 september 1963), melalui tiga zaman yaitu zaman orde lama, zaman orde baru, dan zaman reformasi, hingga menemukan tidak kurang empat puluh empat indikator kemunduran HMI itu sendiri, memudarnya gerak dan reputasi HMI.

Disini penulis hanya membahas bebrapa indikator kemunduran HMI, yaitu:

1. Menurunnya jumlah mahasiswa baru yang masuk HMI

Diliat banyak nya mahasiswa yang kurang antusias mau masuk HMI dikarenakan situasi sekarang yang kurang bersahabat dengan mahasiswa karna adanya wabah Covid 19 di indonesia. 

2. HMI yang semakin jauh dari mahasiswa maupun ummat

Disini dapat diliat karna HMI hanya berkonflik diruang lingkup internal HMI saja yang hanya mementingkan siapa pemenang kedepannya tapi tidak memikirkan apa yang akan dibuatnya kedepan buat organisasi HMI kedepannya, yang bisa dibilang hanya mementingkan dirinya sendiri daripada kepentingan ummat. Maka dari itu marilah kita saling merubah konsep berpikir kita bahwasanya itu mahasiswa dan ummat harus kita prioritaskan daripada harus berkonflik dengan sesama orang HMI. 

3. HMI dan kader kader penerus kurang mampu mengikuti jejak para pendahulunya yang memiliki pandangan visioner, sebagaimana dilakukan pemprakarsa pendiri HMI lafran pane dan para penerusnya.

4. Memudarnya “Tradisi Intelektual HMI”

Sebagai pilar atau lembaga yang pernah diharapkan sebagai penyangga peradaban di indonesia, HMI memiliki tradisi yang patut dibanggakan ( tetapi tidak untuk masa kini).

HMI yang menciptakan dan mewariskan tradisi intelektualnya sendiri.

Lantas bagaimanakah yang dimaksud dengan tradisi intelektual HMI? Apakah sama pola gerakannya seperti iklim intelektual kampus dimasa kepemimpinan presiden joko widodo? Dimana intelektual kampus cenderung mengambil posisi aman dibawah tuntutan beban kerja yang administratif dan enggan berdinamika dengan penguasa negara. Pada posisi inilah menariknya mempertanyakan apakah tradisi intelektual HMI hari ini masih ada atau telah tiada. 

Dengan adanya tulisan diatas , penulis berpesan marilah sama sama kita bangun HMI kearah yang lebih baik lagi. Jangan hanya mau mementingkan individu semata, marilah kita hancurkan orang orang yang sedang berusaha merusak atau meracuni HMI.

Mari kita bubarkan HMI( himpunan mahasiswa mahasiswa iblis, himpunan meracuni islam, himpunan merusak islam)!!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Pilihan dalam Proses Ber-HMI : Refleksi Intelektual dan Tanggung Jawab Sosial Kader HMI

Oleh: Dimas Septiadi  Memilih untuk berproses di Himpunan Mahasiswa Islam sering kali terlihat sederhana dari luar, padahal di dalamnya ada keputusan yang tidak ringan. Banyak yang datang karena ajakan teman, karena penasaran, atau sekadar ingin mencoba. Tapi di titik tertentu, semua itu akan diuji. Apakah tetap bertahan, atau perlahan menjauh karena merasa tidak menemukan makna. Di sisi lain, ada hal yang sering tidak disadari sejak awal yaitu kepekaan sosial. Semakin lama berproses, semakin terasa bahwa apa yang dipelajari tidak cukup untuk diri sendiri. Ada realitas di luar yang tidak bisa diabaikan. Ada persoalan masyarakat yang menuntut kepedulian. Ini sejalan dengan nilai dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2 yang mengingatkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam keburukan. Dari sini, pelan-pelan tumbuh kesadaran bahwa ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan hanya kepuasan pribadi. Ber-HMI pelan pelan mengubah cara seseo...

Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik

  Buruh Terpinggirkan Administrasi Diabaikan Adalah Potret Ketidakadilan Sistemik Oleh: Selamat Ariady Tampubolon  Sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa persoalan ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh hari ini tidak bisa dilepaskan dari satu hal yang sering dianggap sepele yaitu disiplin administrasi. Padahal, justru dari administrasi yang tertiblah lahir perlindungan hak, kejelasan status kerja, hingga kepastian kesejahteraan bagi para pekerja. Di tengah berbagai dinamika,mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpastian kerja akibat kondisi alam, hingga geliat pembangunan infrastruktur, buruh kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Namun ironisnya, banyak persoalan yang mereka hadapi berakar dari lemahnya tata kelola administrasi: kontrak kerja yang tidak jelas, data pekerja yang tidak terdokumentasi dengan baik, hingga hak-hak normatif seperti jaminan sosial dan upah lembur yang tidak tercatat secara transparan. Ini bukan sekadar kelalaian tek...

Tradisi Intelektual Yang Lemah Adalah Ancaman Bagi Masa Depan Kaderisasi

 Oleh: Faisal Alhafiz Damanik Sebagai Kabid P3A Himpunan Mahasiswa Islam, saya memandang bahwa tantangan terbesar organisasi hari ini bukan hanya soal regenerasi, tetapi bagaimana melahirkan kader yang memiliki kualitas intelektual, daya kritis, dan integritas perjuangan yang kuat. Sebab organisasi akan kehilangan arah ketika tradisi berpikir, budaya riset, dan pembinaan kader tidak lagi menjadi prioritas utama. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, mahasiswa sering kali terjebak pada aktivitas seremonial tanpa memperkuat fondasi keilmuan dan kapasitas diri. Diskusi mulai berkurang, budaya membaca melemah, sementara semangat penelitian dan pengembangan gagasan belum tumbuh secara maksimal. Padahal, kekuatan HMI sejak dahulu lahir dari kader-kader yang berpikir kritis, mampu membaca realitas sosial, serta berani menawarkan solusi bagi umat dan bangsa. Persoalan ini menjadi refleksi penting bagi kita semua bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada...