Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

KPP HMI Adalah Ruang Belajar, Berkarya, dan Mengabdi

 Oleh: Alfikri Syahtua Siregar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi kader yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter, intelektualitas, dan kepemimpinan mahasiswa. Di dalam HMI terdapat berbagai bidang yang memiliki fungsi dan tanggung jawab masing-masing, salah satunya adalah Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan (KPP). Bagi saya, KPP bukan sekadar bidang dalam struktur organisasi, melainkan sebuah ruang pembelajaran yang memberikan banyak pengalaman, wawasan, dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa dunia perkuliahan tidak hanya tentang menghadiri kelas dan memperoleh nilai akademik yang baik. Mahasiswa juga dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, kepedulian sosial, keterampilan komunikasi, dan jiwa kepemimpinan. KPP HMI hadir sebagai wadah yang membantu saya memahami pentingnya peran tersebut. Melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan, saya memperoleh banyak pelajaran yang tidak sela...

"Krisis Mahasiswa Hari Ini Adalah Alarm Bahaya Bagi Ruang Akademik"

Oleh: M. Husin Pangabaribuan Dunia akademik hari ini tidak sedang berada dalam keadaan yang tenang. Ia tampak hidup di permukaan, namun perlahan kehilangan denyut kritis di dalamnya. Kampus masih berdiri megah, ruang kelas masih terisi, seminar masih berjalan tetapi ada yang pelan-pelan hilang yaitu keberanian berpikir dan ketajaman sikap intelektual.  Perguruan tinggi sejatinya bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Sejarah mencatat bahwa perubahan besar sering kali lahir dari ruang-ruang diskusi kampus, dari kegelisahan intelektual anak muda, dan dari keberanian mereka mempertanyakan keadaan yang dianggap tidak adil. Mahasiswa bukan sekadar peserta didik dalam sistem pendidikan tinggi, melainkan kelompok sosial yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga akal sehat publik dan mengawal arah perjalanan bangsa. Banyak mahasiswa berhasil memperoleh gelar, tetapi sedikit yang benar-benar memahami makna keilmuan. Banyak yang sibuk mengejar prestasi individual, tetapi kurang...

Merobek Tirai Keheningan: Mengapa Diam Bukan Lagi Pilihan bagi Korban Pelecehan Seksual

Oleh:  Novita Rahma Yanti Harahap Bagi seorang korban pelecehan seksual, fase pasca-kejadian sering kali menjadi waktu yang paling menyiksa dan melelahkan secara mental. Rasa takut yang mencekam, trauma yang tiba-tiba menyergap, hingga kecemasan mendalam yang mengganggu kestabilan psikologis adalah kenyataan pahit yang kerap harus didekap dalam kesendirian. Ruang publik yang tadinya terasa biasa saja, dalam sekejap mata dapat berubah menjadi tempat yang penuh dengan ancaman, ketidakpastian, dan hilangnya rasa aman. Namun, di tengah guncangan psikologis dan penderitaan batin yang begitu hebat, sebuah pertanyaan besar muncul ke permukaan: mengapa ruang sosial kita masih sering menjumpai korban yang memilih untuk bungkam? Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak pernah sederhana. Pilihan untuk diam bukanlah bentuk kelemahan, bukan pula tanda bahwa korban membenarkan tindakan bejat pelaku. Sering kali, korban terpaksa mengubur suaranya karena benteng perlindungan sosial justru runtuh saa...