Oleh:
M. Husin Pangabaribuan
Dunia akademik hari ini tidak sedang berada dalam keadaan yang tenang. Ia tampak hidup di permukaan, namun perlahan kehilangan denyut kritis di dalamnya. Kampus masih berdiri megah, ruang kelas masih terisi, seminar masih berjalan tetapi ada yang pelan-pelan hilang yaitu keberanian berpikir dan ketajaman sikap intelektual.
Perguruan tinggi sejatinya bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Sejarah mencatat bahwa perubahan besar sering kali lahir dari ruang-ruang diskusi kampus, dari kegelisahan intelektual anak muda, dan dari keberanian mereka mempertanyakan keadaan yang dianggap tidak adil. Mahasiswa bukan sekadar peserta didik dalam sistem pendidikan tinggi, melainkan kelompok sosial yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga akal sehat publik dan mengawal arah perjalanan bangsa.
Banyak mahasiswa berhasil memperoleh gelar, tetapi sedikit yang benar-benar memahami makna keilmuan. Banyak yang sibuk mengejar prestasi individual, tetapi kurang peduli terhadap persoalan kolektif. Banyak yang berambisi menjadi orang sukses, tetapi lupa bertanya untuk apa kesuksesan itu digunakan.
Di sinilah krisis mahasiswa bermula.
Krisis mahasiswa bukan sekadar rendahnya minat baca atau berkurangnya budaya diskusi. Krisis mahasiswa adalah krisis kesadaran. Ketika mahasiswa tidak lagi melihat dirinya sebagai bagian dari solusi atas persoalan bangsa, ketika kampus hanya dipahami sebagai tempat memperoleh pekerjaan, dan ketika ilmu pengetahuan hanya dipandang sebagai alat mobilitas sosial, maka pendidikan kehilangan makna terdalamnya.
Bahkan lebih jauh lagi, krisis mahasiswa akan melahirkan krisis akademik. Tradisi berpikir kritis perlahan tergantikan oleh budaya instan. Ruang diskusi semakin sepi, sementara ruang hiburan semakin ramai. Budaya membaca mulai tergeser oleh budaya menggulir layar. Diskusi ilmiah semakin jarang diminati, sementara konten instan lebih mudah menarik perhatian.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang terancam bukan hanya kualitas mahasiswa, melainkan masa depan ruang akademis itu sendiri. Kampus akan tetap ramai oleh aktivitas, tetapi sepi dari gagasan. Ruang kelas akan tetap terisi, tetapi miskin dialog. Dan universitas akan menghasilkan banyak lulusan, tetapi semakin sedikit intelektual.
Sebagai mahasiswa, kita harus menyadari bahwa tugas utama akademisi bukan sekadar menghafal dan memahami teori, melainkan mengembangkan kemampuan berpikir, mempertanyakan, dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Oleh karena itu, saya mengajak dan menegaskan kepada teman-teman sudah saatnya mahasiswa kembali ke jati dirinya, bukan hanya pencari gelar, tetapi penggerak kesadaran dan perubahan di ruang akademis dan bangsa.
"Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal"
YAKUSA

Komentar
Posting Komentar