Langsung ke konten utama
 Dari Diri , Oleh Diri , dan Untuk Diri

Oleh : Ika Herawati Siregar

     “Balas dendam terbaik adalah menjadikan diri kita lebih baik”

 (Ali Bin Abi Thalib)

      Setiap insan pasti tak hanya merasakan bahagia saja di dalam hidupnya, terkadang kesedihan pun datang menghampiri, baik itu dari keluarga, sahabat, teman kerja dan lingkungan sekitar yang membuat perasaan, pikiran menjadi lelah, bagaiamana untuk menghadapinya.

     Dalam kondisi seperti itu hal yang perlu dan paling pentng dilakukan yaitu bagaimana kamu menyambut datangnya kesedihan tersebut. Yang paling berperan dalam hal tersebut pasti diri sendiri, jika kamu ingin keluar dari zona nyaman yang selalu begitu saja, maka bangkitlah belajar dari pengalamanmu, jadikan pengalaman tersebut sebagai guru dalam hidupmu agar tidak terulang kembali dalam masalah yang sama. 

     Jangan pernah sekalipun kamu menyerah akan masalah yang datang menghampirimu, tetaplah berjuang dan lakukan apa yang harusnya dilakukan, stop, tinggalkan zona nyaman mu. Ingat dirimu sendiri lah yang berhak untuk memutuskan apakah kamu maju atau mundur dalam menjalani kehidupan mu. Jadikan hinaan, cacian dari orang – orang yang membencimu sebagai wujud motivasi bagi diri sendiri untuk bangkit. 

     Ingat, kita tidak ada yang mengetahui apa yang sudah Allah rencanakan terhadap diri kita, tetapi tetaplah berusaha menjadikan perjalanan hidup mu lebih baik lagi dari perjalanan sebelumnya. Tetaplah berjuang kamu pasti bisa. 


PANJANG UMUR PERJUANGAN!  

YAKIN USAHA SAMPAI!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Oleh : Ajeng Febrian Surbakti      Sebagai mahasiswa itu sendiri, kampus adalah rumah kedua kita, tempat kita menimba ilmu dan membentuk mimpi-mimpi yang lama kita bangun. Namun, bayang-bayang kekerasan seksual yang mencuat di UINSU baru-baru ini merobek rasa aman yang seharusnya kita rasakan. Sebagai kader (Himpunan Mahasiswa Islam) HMI, sepatutnya kita tidak bisa tinggal diam. Dalam tulisan ini saya, Ajeng Febrian Surbakti ingin mengulas sedikit lewat teropong kader HMI. Perlu diketahui benang kusut permasalahan ini merupakan tanggung jawab moral kita bersama, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.      Dari sudut pandang mahasiswa, salah satu akar masalah yang paling terasa adalah kurangnya ruang aman dan mekanisme pelaporan yang efektif. D...

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS Oleh: Rizky Nanda Pratama Sebelum kita melangkah lebih jauh dalam pembahasan ini, ada baiknya kita menilik kembali sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Apa sebenarnya HMI? Mengapa organisasi ini didirikan, dan apa alasan keberadaannya masih dipertahankan hingga kini? Memahami sejarah dan tujuan HMI sangat penting agar setiap kader dapat menyerap pesan yang terkandung di dalamnya. Tanpa pemahaman yang utuh, ada risiko bahwa kader tidak akan terlibat aktif dalam perjuangan untuk mewujudkan misi HMI. Dampaknya bisa beragam: misi yang berbunyi “terbinanya insan akademik, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala” dapat dianggap sebagai sekadar susunan kata tanpa makna, bahkan dapat dianggap sepele sehingga tidak layak untuk diperjuangkan. Oleh karena itu, memahami HMI secara menyeluruh, termasuk motivasi di balik pendirian...

Dinamika Stigma Negatif HmI

“Dinamika Stigma Negatif HmI” Oleh : Abdul Rasyid Nasution             HMI adalah organisasi yang tertua yang ada di Indonesia, sebab 2 tahun pasca kemerdekeaan HMI dideklarasikan oleh seorang mahasiswa STII (seakarang UII) yaitu Bung Lafran Pane di Jogjakarta pada tanggal 05 Februari 1947. HMI adalah organisasi independen yang tidak terikat dengan ormas/instasi manapun, yang mana ini membuktikan bahwa HMI berisi orang-orang yang memiliki kedewasaan karakter dan kedewasaan berfikir dengan asas islam, kemudian dengan NDP (Nilai-nilai Dasar Perjuangan).             Banyak yang menuduhkan bahwa HMI adalah NU, HMI adalah Muhammadiyah dll. Padahal HMI adalah oraganisasi yang mempunyai nilai esensial tentang pandangan islam, seperti yang ditulis salah seorang tokoh yaitu Nurcholis Majid (Cak Nur) dan tokoh-tokoh lainnya.          ...