Langsung ke konten utama

Covid Sebagai Ladang Bisnis ?

 

Covid sebagai ladang bisnis ?

Oleh : Syahputra


Tercatat hingga awal bulan Juli 2021 , dilansir dari update Kemenkes sudah 2 juta lebih orang positif covid, dan hampir 60 ribu orang meninggal dunia. Mulailah memisahkan sebagai fakta Sains dan Covid sebagai fakta politik ataupun bisnis. Covid sebagai virus itu nyata dan harus kita akui, ia nyata berbahaya dan bahkan bisa merebut nyawa orang-orang tercinta, makanya dibutuhkan protokol kesehatan dan jangan pernah di sepelekan, walau dengan mematuhi prokes tidak menjamin jugaa kita tidak terpapar virus covid ini , Setidak nya kita telah ber ikhtiar melakukan pencegahan. Sedang Covid sebagai fakta Politik dan Bisnis juga harus kita akui, Kita sama sama tau bahawa di awal awal covid kebanyakan para pejabat banyak yang menyepelekan virus ini. Contohnya Menteri Perhubungan RI Bapak Budi Budi Karya Sumadi berkelakar bahwa tidak ditemukannya virus COVID-19 di Indonesia hingga saat ini karena masyarakatnya memiliki kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh itu dimiliki lantaran setiap hari gemar makan nasi kucing. "Tapi (ini) guyonan sama Pak Presiden ya, insya Allah ya, (virus) COVID-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal," kata Budi Karya saat menyampaikan pidato ilmiah dalam acara peringatan Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT) ke-74 di Grha Sabha Pramana, UGM, Yogyakarta, Senin (17/2/2020.

 Korupsi Bansos oleh Menteri Sosial Bapak Juliari Batubara adalah salah satu contoh bahwa covid adalah ladang bisnis bagi sebagian orang. Juliari diduga menerima Rp17 miliar dari dua paket pelaksanaan bansos berupa sembako untuk penanganan Covid-19 di wilayah Jabodetabek Tahun 2020. Belum lagi bisnis alat tes covid, contohya yang dilakukan Business Manager Kimia Farma wilayah medan yang di tetapkan tersangka setelah ditangkap oleh polisi terkait penggunaan alat tes antigen bekas di Bandara Kualanamu, Sumatera utara. Ini masih sedikit contoh bahwa covid sebagai lahan bisnis. Kita mengakui dua fakta itu, bahwa covid sebagai pandemi dan juga sebagai lahan politik dan bisnis.

Belum lagi sanksi pelanggaran prokes yang tidak berlaku bagi para penguasa Ketika kita tidak sejalan dengan Pemerintah bukan berarti kita harus menyepelekan protokol kesehatan. Ketidakjelasan Pemerintah dalam penanganan covid bukan alasan kita untuk menyepelekan pandemi. Dengan Mengikuti Prokes Justru kita sedang pro terhadap sains, pro terhadap akal sehat dan mengikuti Anjuran Syariat. Dengan kita tetap prokes, tidak menyepelekan namuun tetap kritis mengkoreksi setiap kebijakan , rasanya ini adalah sikap yang tepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Teropong Kader HMI: Mengurai Benang Kusut Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Oleh : Ajeng Febrian Surbakti      Sebagai mahasiswa itu sendiri, kampus adalah rumah kedua kita, tempat kita menimba ilmu dan membentuk mimpi-mimpi yang lama kita bangun. Namun, bayang-bayang kekerasan seksual yang mencuat di UINSU baru-baru ini merobek rasa aman yang seharusnya kita rasakan. Sebagai kader (Himpunan Mahasiswa Islam) HMI, sepatutnya kita tidak bisa tinggal diam. Dalam tulisan ini saya, Ajeng Febrian Surbakti ingin mengulas sedikit lewat teropong kader HMI. Perlu diketahui benang kusut permasalahan ini merupakan tanggung jawab moral kita bersama, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.      Dari sudut pandang mahasiswa, salah satu akar masalah yang paling terasa adalah kurangnya ruang aman dan mekanisme pelaporan yang efektif. D...

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS

HMI ANTARA KEKUASAAN INTELEKTUAL ATAU DEGRADASI INTEGRITAS Oleh: Rizky Nanda Pratama Sebelum kita melangkah lebih jauh dalam pembahasan ini, ada baiknya kita menilik kembali sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Apa sebenarnya HMI? Mengapa organisasi ini didirikan, dan apa alasan keberadaannya masih dipertahankan hingga kini? Memahami sejarah dan tujuan HMI sangat penting agar setiap kader dapat menyerap pesan yang terkandung di dalamnya. Tanpa pemahaman yang utuh, ada risiko bahwa kader tidak akan terlibat aktif dalam perjuangan untuk mewujudkan misi HMI. Dampaknya bisa beragam: misi yang berbunyi “terbinanya insan akademik, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala” dapat dianggap sebagai sekadar susunan kata tanpa makna, bahkan dapat dianggap sepele sehingga tidak layak untuk diperjuangkan. Oleh karena itu, memahami HMI secara menyeluruh, termasuk motivasi di balik pendirian...
  Curhatan Mahasiswa Tentang Kuliah Daring Selama Pandemi Oleh : Desi Rambe      Banyak sekali suka duka yang dialami mahasiswa pada saat ini dalam kegiatan kuliah daring selama pandemi. Kuliah daring tentunya berdampak secara langsung civitas akademika kampus, baik itu tenaga pendidik, tenaga kepegawaian, hingga mahasiswa. Mahasiswa merasakan campur aduk antara senang dan sedih dengan keputusan kuliah daring sampai saat ini. Mahasiswa mengaku sedih karena banyaknya kendala dan perkuliahan yang tidak semaksimal kuliah tatap muka, mulai dari kendala jaringan dan lain sebagainya. Dan senangnya kuliah daring karena tidak dipaksakan masuk ke kampus saat kondisi belum membaik sepenuhnya.      Mahasiswa stambuk 2020 yang tidak pernah sama sekali merasakan kegiatan perkuliahan secara tatap muka langsung dengan dosen masih berharap agar bisa dilakukan kegiatan perkuliahan ini secara offline . Banyak haluan yang timbul di benak mahasiswa sewaktu menjadi mahasis...