Menjaga Amanah, Menata Harapan
Oleh: Mulyani
Memegang amanah sebagai Bendahara Umum di Himpunan Mahasiswa Islam sering kali dipandang sebelah mata. Banyak yang mengira tugasnya hanya mencatat angka atau menagih iuran. Padahal, di balik deretan angka itu ada keputusan berat dan ujian integritas yang nyata.
Awalnya, posisi ini tampak sekadar teknis administrasi. Namun semakin jauh berjalan, kita menyadari bahwa ini adalah ujian hati dan konsistensi dalam menjaga kepercayaan organisasi.
Dalam konteks keuangan organisasi, ayat ini mengajarkan bahwa setiap rupiah yang dihimpun dari kader harus dikelola untuk mendukung perkaderan dan perjuangan, bukan disalahgunakan atau dihamburkan. Di sinilah tumbuh kesadaran bahwa mengelola keuangan adalah bagian dari dakwah dan ikhtiar menjaga keberlangsungan organisasi.
Ber-HMI di posisi bendahara perlahan mengubah cara pandang kita terhadap materi. Uang bukan lagi simbol kekuasaan, melainkan alat perjuangan yang harus dipertanggungjawabkan. Allah SWT juga mengingatkan dalam QS An-Nisā’ ayat 58:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...”
Ayat ini menjadi dasar bahwa amanah organisasi harus dijaga dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Intelektualitas seorang bendahara tidak diukur dari rumitnya laporan, melainkan dari integritasnya dalam menyampaikan kondisi keuangan organisasi secara terbuka dan jujur. Transparansi bukan hanya kebutuhan administrasi, tetapi bentuk penghormatan terhadap kepercayaan kader.
Namun godaan terbesar dalam urusan harta adalah ketika seseorang mulai mengkhianati amanah. Karena itu, QS Al-Baqarah ayat 188 sangat relevan sebagai pengingat:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil...”
Ayat ini menjadi alarm moral bagi seorang bendahara: jangan menggunakan dana organisasi tanpa hak, jangan membuat laporan yang tidak sesuai kenyataan, dan jangan memanfaatkan jabatan demi kepentingan pribadi. Sebab setiap harta yang dikelola akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di forum laporan akhir periode, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Pada akhirnya, menjadi Bendahara Umum bukan soal seberapa besar saldo yang terkumpul, melainkan seberapa kuat menjaga integritas di tengah godaan. Ini adalah pilihan untuk menjadi pelayan bagi kepentingan kader dan organisasi. Banyak orang mampu mencatat angka, tetapi tidak semua mampu bertahan dalam kejujuran. Dan mereka yang tetap tegak biasanya adalah orang-orang yang memahami bahwa uang organisasi adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh ketakwaan.
Yakin Usaha Sampai.

Komentar
Posting Komentar