Nabila Fatila
Demokrasi pada hakikatnya bukan hanya persoalan bagaimana seseorang memilih pemimpinnya. Demokrasi adalah tentang bagaimana manusia diberi ruang untuk bersuara, berbeda pendapat, berpartisipasi dalam menentukan arah kehidupan bersama, serta mendapatkan perlindungan atas hak dan martabatnya.
Dalam konteks internasional, demokrasi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Dunia hari ini tidak hanya berhadapan dengan persoalan perebutan kekuasaan, tetapi juga perang, konflik kemanusiaan, ketimpangan ekonomi, disinformasi, pembatasan kebebasan sipil, hingga penggunaan teknologi untuk membentuk opini publik.
Ironisnya, demokrasi sering kali dibicarakan sebagai nilai universal, tetapi penerapannya masih menghadapi standar ganda. Ada bangsa yang berbicara tentang kebebasan, tetapi pada saat yang sama masih membiarkan ketidakadilan terjadi terhadap kelompok lain. Ada negara yang mengatasnamakan demokrasi, tetapi suara masyarakat kecil justru tenggelam di bawah kepentingan ekonomi dan politik.
Di titik inilah demokrasi harus dikembalikan kepada substansinya, kekuasaan harus bertanggung jawab kepada manusia, bukan manusia yang dipaksa tunduk kepada kekuasaan.
Sebagai mahasiswa dan pemuda, kita tidak boleh memandang persoalan demokrasi internasional sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Arus informasi membuat persoalan dunia masuk ke ruang-ruang kehidupan kita setiap hari. Apa yang terjadi di suatu negara dapat memengaruhi cara generasi muda memahami keadilan, kemanusiaan, kebebasan, bahkan masa depan bangsanya sendiri.
Mahasiswa harus memiliki keberanian intelektual untuk membaca persoalan tersebut secara kritis. Tidak mudah terjebak propaganda, tidak menjadi pengikut arus informasi tanpa verifikasi, dan tidak membangun sikap hanya berdasarkan emosi.
Dalam tradisi HMI, intelektualitas seharusnya berjalan bersama tanggung jawab moral. Ilmu harus melahirkan kesadaran, kesadaran harus melahirkan keberanian, dan keberanian harus diarahkan untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Demokrasi yang sehat membutuhkan generasi muda yang tidak apatis. Sebab ketika kaum muda memilih diam terhadap ketidakadilan, ruang demokrasi akan semakin mudah dikuasai oleh mereka yang memiliki kepentingan dan kekuasaan.
Karena itu, memperjuangkan demokrasi bukan berarti selalu berada di pihak pemerintah ataupun selalu berada di pihak oposisi. Keberpihakan mahasiswa seharusnya berada pada kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan kepentingan rakyat.
Dunia membutuhkan demokrasi yang tidak berhenti pada kotak suara. Dunia membutuhkan demokrasi yang mampu menghadirkan perdamaian, melindungi hak asasi manusia, membuka ruang bagi perbedaan, dan memastikan bahwa tidak ada manusia yang kehilangan martabatnya hanya karena ia berbeda suku, bangsa, agama, pandangan, ataupun kepentingan politik.
Demokrasi bukan sekadar tentang siapa yang berkuasa, tetapi tentang untuk siapa kekuasaan itu digunakan.
Dan bagi mahasiswa, pertanyaan terpenting bukan hanya “siapa yang memimpin?”, tetapi juga “ke mana kekuasaan itu diarahkan, siapa yang mendapatkan manfaatnya, dan siapa yang masih tertinggal di belakangnya?”
Yakin Usaha Sampai.

Komentar
Posting Komentar